Rabu, 10 Maret 2021

Dilema Menanti jodoh


BELAJAR AKHLAK KELUARGA DAN WANITA


Indahnya ketika akad telah dikumandangkan, berjuta doa membanjiri pasangan pasutri baru yang sedang dilanda asmara. Keharmonisan rumah tangga telah terbayang indah nan penuh warna. Euforia walimatul ‘urs semakin menambah suasana berbunga-bunga.

Menikah merupakan dambaan setiap insan manusia. Menikah juga tak hanya sarana menyalurkan cinta dan nafsu belaka tanpa menuai pahala dari Allah Ta’ala. Menjadi keluarga yang bahagia, penuh dengan rasa cinta dalam rumah tangga merupakan impian dan idaman. Sungguh indah bersanding dengan seorang yang didambakan. Maka tak heran jika ada yang memasang berlembar-lembar kriteria diajukan demi mendapatkan pasangan yang diimpikan.

Mematok seabrek kriteria bukanlah hal yang salah, karena setiap orang mengidamkan pasangan terbaik sebagai pasangan hidupnya demi kebahagiaan rumah tangga kelak. Namun, ingatlah bahwa kriteria-kriteria itu bukanlah harga mutlak. Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Layaknya matahari dan bulan, mereka sama-sama memiliki fungsi sendiri-sendiri. Bulan datang ketika malam tiba memberikan penerangan dalam kegelapan malam. Pun dengan matahari yang datang memberikan cahaya terbaiknya untuk menghangatkan bumi pertiwi.

Termotivasi dan berkeinginan menikah sampai mencapai level tertentu merupakan anugerah yang indah dari Allah Ta’ala. Dengan menyadari bahwa laki-laki dan perempuan merupakan kekuasaan-Nya, Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum: 21).

Menikah adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita berusaha untuk selalu mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401).

Berharap pahala dari kehidupan rumah tangga, mendapat keturunan yang shalih dan shalihah. Menjadi taman untuk mendirikan syari’at agama pertama bagi anak-anaknya.

Janganlah keinginan menikah yang telah menghujam dalam hati sirna karena terlalu tingginya patokan kriteria yang diajukan. Jikalau ternyata tidak ditemukan yang sama dengan kriteria yang diinginkan, maka tidak boleh merugikan dirinya dengan menunda-nunda pernikahan demi menunggu dan mendapatkan yang sama persis dengan keinginannya. Sehingga ia tidak sadar dangan kondisinya sendiri yang telah berada pada ambang waktu untuk harus menikah. Sungguh hal yang sangat merugikan jika standar yang diinginkan tertalu tinggi malah menjadi duri bagi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya.

“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” (Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi).

Kalimat di atas telah menyadarkan dan mengajari kita, bahwa tidak mungkin seseorang akan mendapatkan pasangan yang sempurna tanpa cela. Oleh karenanya, buat apa menunda pernikahan karena terhalang sebuah kriteria selangit yang belum sesuai keinginan?

Seperti ungkapan yang sering didengar, “Apabila Anda tidak memiliki kualitas sebaik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan mendapat istri seperti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bilamana Anda bukan seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu ‘anha.”

Alangkah lebih baiknya ketika kita tidak terlalu neko-neko dalam menentukan kriteria calon pasangan kita. “Ketika kamu ingin mendapatkan yang shalih, maka shalihahkan dulu dirimu.”, begitu juga sebaliknya. Agar kita senantiasa sadar atas segala kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki. Tidak hanya menuntut namun berusahalah menjadi penurut bagi suami kita kelak.

1. Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.

Ingatlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).

2. Perbaiki niat

Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan hasrat kondrat manusiawi?

Pasti akan didapat jawaban yang berbeda-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariat: 56).

Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, sudah sepantasnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.

3. Bekali diri dengan ilmu

Ketika bahtera rumah tangga telah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang akan terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat berbagai ritangan dan hambatan. Ombak yang datang menghantam, hujan, angin, dan badai yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang. Mustahil seorang nahkoda dapat mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menanti pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Agar senantiasa lebih siap dan bijak dalam mempersiapkan rumah tangga yang diidamkan bersama pasangan.

~Menikah sesungguhnya sangat menjaga

Menjaga pandangan, hati, lisan, tangan dari yang diharamkan-Nya
Lalu menggunakan untuk meraih pahala dan keridhoan-Nya
Bentuk perilakunya sungguh sama
Pujian, sanjungan, sentuhan, perhatian, rindu, cinta
Namun jika tidak dimulai dengan ikatan agama
Semua perbuatan itu hanya akan berbuah luka
Bahagiakan diri dengan memulai dengan niat yang suci
Akad yang disaksikan Ilahi
Insya Allah keberkahan akan menghampiri

Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang pernikahan, mempertemukan kepada seseorang yang diidam-idamkan. Allahu a’lam

Wallahu a’lam bish showwab. Wallahu waliyyut taufiq fil ‘ilmi wal ‘amal.

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ


Cps 

Source Fb kajian sunnah

[Pent] @moorses_id

Jumat, 11 September 2020

Allah sudah atur porsi kehidupan

Allah sudah atur porsi kehidupan.

Terkadang semudah itukah cara Allah memberikan nikmat yang berbahagia beriringan dengan cobaan.

Semudah Allah memberikan kita nikmat rezki semudah pula Allah tarik semua nikmat jika Allah berkehendak.
Siklus kehidupan sudah pasti berputar gak akan diam pula.
Dari pemilik kafe, menjadi pengunjung kafe, dari pengunjung kafe jadi pegawai kafe.
Semua berputar, roda kehidupan berputar, bicara soal penghasilan itu relatif, bicara soal rezki itu sudah pasti Allah atur di setiap hambanya tinggal bagaimana caramu bersyukur pemberian dari Allah, bersyukur sebagai pemilik, bersyukur sebagai pengunjung dan bersyukur sebagai pegawainya.

Kadang apa yang kamu punya itu harapan bagi orang lain, kadang posisi mu sebagai pengunjung adalah harapan bagi mereka yang tidak mampu untuk membeli nya, kadang posisi mu sebagai pegawai adalah harapan mereka yang sebagai pengunjung ingin bekerja di tempat tersebut, kadang posisi mu sebagai pemilik adalah harapan bagi mereka para pegawai yang menginginkan posisi tersebut. Tabiat manusia memang seperti itu tidak pernah merasa puas akan pencapaiannya.

Muhasabah.
Mungkin saat menjadi pemilik tempat tersebut hidup ini kurang berkah, selalu menaruh dunia dalam genggaman, selalu lupa akan bersyukur selalu lupa akan berbagi, maka demikian Allah cerai beraikan urusan di dunia. Semua akan berbalik jika kita menaruh akhirat dalam genggaman.

Pandai pandai lah bersyukur dengan apa yang kamu miliki saat ini. Apa yang kamu miliki adalah harapan bagi orang lain.

Allahul musta'an..
Barakallahu fiikum

@moorses_id
11:09:20:00:12

Rabu, 24 Juni 2020

Kenapa orang berteriak ketika sedang marah


ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ


Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak. 

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : "Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?".

Salah satu murid menjawab : "Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak."

"Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya...? bukankah pesan yang ia sampaikan , bisa ia ucapkan dengan cara halus ?". 
Tanya sang Syeikh sambil menguji murid-muridnya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya sang Syeikh  berkata : 
"Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh, untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar".

"Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya, karena jarak kedua hati semakin jauh".  

"Begitu juga sebaliknya, disaat kedua insan saling jatuh cinta?" lanjut sang Syeikh.

"Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain, mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan, jarak antara kedua hati sangat dekat."

"Bila mereka semakin saling mencintai, apa yang terjadi?", mereka tidak lagi bicara, mereka hanya berbisik dan mereka saling mendekat dalam kasih-sayang". 

Pada akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik, mereka cukup hanya dengan saling memandang, sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi."

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut : 
"Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh". 

"Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh, karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan bisa lagi ditempuh".

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ


Repost.
@cahayasunnah
https://t.me/cahayasunnah

Kamis, 23 Januari 2020

Amalan yang sholeh

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Sesungguhnya amalan saleh merupakan perniagaan yang menguntungkan serta bekal yang membawa keberuntungan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ غَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٠﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." [QS. Fa’thir: 29-30]

Amal saleh senantiasa mendatangkan kebahagiaan dan menjauhkan dari kesengsaraan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Nahl: 97]

Amal saleh merupakan harapan yang pasti dan simpanan yang istimewa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُۥ ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ ﴿٤٤﴾ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ ﴿٤٥﴾

"Barang siapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu dan
barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karuniaNya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar." [QS. Ar-Ruum: 44-45]

Amal saleh merupakan sarana untuk menggapai Surga dan ridha Ar-Rahman, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ ﴿٧﴾
جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ ﴿٨﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." [QS. Al-Bayyinah: 7-8]

Sesungguhnya amal saleh dan hati merupakan barometer yang akan dipandang oleh Allah Ta’ala dan dari sana seseorang akan mendapatkan balasan yang setimpal, sebagaimana diriwayatkan dari hadis Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta kalian, akan tetapi Allah Ta’ala melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian."* [HR. Muslim]

Amal saleh merupakan pendamping yang setia dan senantiasa menyertai setiap orang, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya akan mengikuti setiap orang yang telah wafat tiga perkara, dan dua di antaranya akan kembali, dan tersisa satu perkara, keluarganya, hartanya, dan amalnya, dan keluarga serta hartanya akan kembali dan amalnya akan senantiasa mendampinginya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dikatakan kepada ahli hikmah, siapakah pendamping yang setia? Maka dijawab: "Amal saleh."

Hendaknya setiap dari kita merenungkan tentang pendampingnya kelak tatkala ia terbaring di alam kubur, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Baro’ ibnu A’zib radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis yang panjang tentang kematian, tatkala seorang mukmin dicabut nyawanya dan dimasukkan ke dalam kubur:

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ؛ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ ، فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ ؛ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

Dan datang seseorang yang berwujud rupawan dan berpakaian indah dan beraroma wangi semerbak, dan ia berkata: "Berbahagialah dengan kesenangan ini, di hari yang telah di janjikan ini." Maka orang yang meninggal tersebut bertanya:"Siapakah gerangan dirimu, wajahmu berseri-seri penuh dengan kebaikan?" Maka ia menjawab: "Aku adalah amal salehmu." [HR. Ahmad]

Alangkah bahagianya orang tersebut, dipertemukan dengan amal ibadah salehnya, sungguh beruntung dan mengharukan, di hari merugi orang yang malas dan menyesal orang yang tidak beramal.

Ini semua, dikatakan suatu amalan menjadi saleh jika terpenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

"Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya." [QS. Al-Kahfi: 110]

Allah Ta’ala berfirman:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

"Untuk menguji, mana di antara kalian yang paling baik amalnya." [QS. Al-Mulk: 2]

Berkata Al-Fudhail Ibnu Iyadh rahimahullah, tentang ayat ini yaitu: "Yang ikhlas dan mengikuti sunnah, dikarenakan sesuatu amalan jika ia ikhlas akan tetapi tidak benar sesuai sunnah, maka ia tertolak. Dan jika benar sesuai dengan sunnah akan tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima. Sehingga suatu amalan tersebut ikhlas dan sesuai dengan sunnah, ikhlas jika ia hanya berniat karena Allah Ta’ala semata, dan benar sesuai dengan sunnah jika ia mencontoh perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam."

Semoga Allah Ta’ala menjadikan amalan-amalan kita ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala, dan sesuai dengan perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan semoga tidak dijadikan untuk suatu makhluk sedikit pun.

والله أعلم... وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: https://bbg-alilmu.com/

Penulis: Syaikh Abdurrozak Al-Badr, حفظه الله تعالى

Senin, 23 Desember 2019

Ketika di hadapi masalah

Ketika kamu di dalam suatu masalah atau terlibat dalam masalah yang terus terusan, ibarat kamu sedang berdiri di atas bara api yang menyala hebat,

Jika kamu belum merasa terlibat dalam masalah itu, kamu hanya akan melihat bara api itu dari kejauhan, setelah merasa kamu terlibat dalam masalah itu ingin merasa menghindari justru malah ingin masuk kedalam bara api yang menyala hebat tersebut, terbakarlah kamu, yang seharusnya bara api tersebut kamu bisa hindari justru kamu sengaja menghampirinya padahal udah tau kalo kena bara api akan terbakar.

Jika kamu gak tau harus bagaimana ketika dalam posisi di atas bara api tersebut, bergegaslah menghindar, keluar dan loncatlah dari bara api tersebut, setelah kamu keluar mungkin masalah mu udah selesai tapi ternyata tidak, bara api tersebut masih menempel di kaki mu,
Bagaimana bisa tidak terlibat lagi dalam masalah tersebut tapi selalu menjadi masalah ketika kita menghadapinya lagi,
Berusahala singkirkan sisa sisa bara api tersebut dari kakimu.
Untuk saat ini posisi mu aman.

Jika suatu saat melihat lagi bara api tersebut mungkin kau akan berfikir ulang untuk kembali memasuki bara api itu,
Karna sudah tau konsekuensinya.

Biarpun kita tidak bisa menghapus atau membuang masalah tersebut, setidaknya kita bisa menghindari untuk tidak terjadi dan timbul masalah, dengan cara kita melewatinya dari arah samping atau lewat jalan lainnya.

Masalah itu memang harus di hadapi, selagi bisa dihindari kenapa gak coba mengindari masalah tersebut.

Selasa, 05 November 2019

Perkara Ujian

                                                                         ﷽

Ujian kan berasal dari Allahﷻ , kita yakin mampu saja dan menyerahkan semua dengan rencana baikNya. Allahﷻ pasti mempermudah kita menghadapi ujianNya dengan cara yang baik, kita hanya diwajibkan berusaha, berdoa semampunya.
Trik
Percaya kan? Kalau setiap manusia itu sudah memiliki takdir dan jalan hidupnya masing masing, gak perlu mengkhawatirkan gimana besok atau nanti, yang pasti Allahﷻ udah menyiapkan dan merencanakan jalan yang terbaik, dan sebaik-baiknya rencana manusia adalah lebih baik rencana Allahﷻ, harus ikhlas apapun yang sudah Allahﷻ tetapkan, karna semua itu adalah suatu pilihan yang terbaik menurutNya.
Semua berasal dari Allahﷻ dan akan kembali ke Allahﷻ...

Db.co

Selasa, 22 Oktober 2019

Jodoh adalah cerminan diri sendiri

Lawan jenis yang pernah datang di kehidupan kita adalah sebuah ujian bagi diri kita dan mungkin menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan. Bahasanya disebut dengan 'pacaran'. Pacaran bukan menjadi pokok dalam mencari jodoh. Pacaran hanya sekedar memadu kasih tanpa ikatan suci pernikahan. Sebagian lawan jenis yang kita temui dan yang kita sempat memiliki, hanyalah gambaran pasangan hidup yang mungkin nantinya kita akan memilikinya di masa depan. Tidak peduli berapa banyak kita berganti pasangan, namun hanya sedikit pasangan yang serius untuk menikah yang pada akhirnya membangun rumah tangga sampai hari tua. Mencari jodoh bukan ajang untuk coba-coba atau perlombaan bergengsi.

Banyak sekali orang yang mencari pasangan dengan berpacaran agar dapat menemukan pasangan yang tepat bagi dirinya. Salah satu alasannya adalah saling menyukai satu sama lain. Tapi efek dari pacaran akan menimbulkan kebosanan dan rasa tidak nyaman kepada pasangan seiring berjalannya waktu. Pada kenyataannya, banyak pasangan yang memilih pacaran namun gagal pada akhirnya. Rasa yang tertinggal hanya dosa, kekecewaan dan penyesalan yang berharap semuanya tidak pernah terjadi. Kerap kali pacaran hanya mempertemukan bukan untuk mempersatukan. Tak sedikit mereka yang berpacaran yang pada akhirnya menjadi tamu diacara pernikahan masing-masing. Maka dari itu, marilah kita belajar untuk menjadi orang yang selalu menjaga diri agar menjadi orang yang lebih baik dari orang-orang yang pernah hadir di hidup kita. Buatlah dirimu pantas dinikahi bukan untuk dipacari.

Allahﷻ berfirman dalam Al-Qur'an :

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allahﷻ menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allahﷻ memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allahﷻ yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allahﷻ
selalu menjaga dan mengawasi kamu.”[QS.An-Nisaa:1]

Kebayaakan remaja sekarang sudah kelewat gaul sehingga hilang rasa malunya. Para orang tua yang kurang membekali nilai-nilai agama, sopan santun, cara memilih teman dan pengendalian diri kepada anak-anaknya sewaktu kecil sampai remaja. Padahal orang tua harus berbagi pengalaman hidupnya untuk pembelajaran bagi masa depan anaknya.

Banyak yang bilang fisik itu lebih utama dalam mencari jodoh. Tapi tidak bagi orang-orang yang sudah menemukan jodohnya lalu segera menikah. Meskipun belum menikah tapi belajarlah dari pengalaman orang lain yang sudah menikah, jangan sampai kita terjebak dalam hal sulit dalam membangun rumah tangga.

Banyak waktu berharga yang akan terbuang atau terlewat sia-sia hanya untuk mendapatkan pasangan terbaik tapi justru kita berhubungan dengan orang yang salah hanya karna terbawa perasaan suka. Alangka baiknya, semua waktu yang akan digunakan untuk berpacaran diberikan kepada jodoh yang ditakdirkan untuk kita memilikinya disepanjang hidup kita. Bila sudah terjadi anggaplah itu suatu pembelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang mungkin bisa fatal di kemudian hari. Pokok utama mencari jodoh yang baik adalah mempersiapkan diri jauh lebih baik dari orang-orang yang ada disekitar kita. Dalam hidup ini kita tidak diminta berlebihan dalam hal berhubungan kecuali dengan pasangan hidup kita yang sah dimata Allahﷻ dan keluarga kita.

Allahﷻ berfirman dalam Al-Qur'an :

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik."[Qs. An Nur:26]

Seharusnya bila jodoh kita belum begitu jelas ada baiknya kita mengontrol diri kita dengan mengisi hal-hal yang positif. Waktu sangat begitu singkatnya dalam hidup kita di dunia. Aktivitas bisa dilakukan seperti memperbanyak membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an serta memahami maknanya. Perbanyak melatih kemampuan diri yang mungkin bisa menghasilkan karya yang berharga daripada kita hanya mencari pasangan hanya untuk main-main saja. Dalam memilih jodoh, yang dicari buka persamaan tapi perbedaan untuk saling melengkapi satu sama lain. Bila sudah memiliki jodoh dan sudah siap lahir serta batin maka segeralah menikah agar tidak terjadi fitnah bagi keduanya.

Rasulullahﷺ bersabda :

“Apabila datang kepada kalian siapa yang kalian ridhai akhlak dan agama nya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan menjadi fitnah dan muka bumi dan kerusakan yang luas.”[HR. Al-Hakim]

Dalam memilih pasangan, pililah karna agamanya terlebih dahulu, kemudian ibadahnya dan akhlaknya. Biarlah kita tidak pacaran, tapi kita bisa menjaga diri kita dari hal yang tidak baik serta  ibadah kita semakin meningkat. Pacaran banyak menimbulkan keburukan dan hanya penyesalan yang akan terus menghantui kita setiap saat bila impian tidak sesuai kenyataan.

Rasulullahﷺ bersabda :

"Wanita dinikahi karena empat perkara. Pertama hartanya, kedua kedudukan statusnya, ketiga karena kecantikannya dan keempat karena agamanya. Maka carilah wanita yang beragama (islam) engkau akan beruntung.”[HR.Bukhori, Muslim, Al-Nasa'i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad Ibn Hanbal, dan al-Darimi]

Yakinlah bila saatnya tiba jodoh kita tidak akan pernah tertukar dan jodoh kita adalah pilihan yang terbaik dari Allahﷻ. Hal yang pasti adalah jodoh kita tidak jauh beda dari diri kita sendiri. Perbaiki kesalahan-kesalahan kita dan banyak menebar senyum kepada orang lain. Mendekatlah kepada yang menciptakan diri kita dan jodoh kita yaitu Allahﷻ . Insyaa Allah jodoh yang kita nanti, akan mengahapiri kita tanpa kita sadari. 

~muchamad ismail Al marzuki
   Edited db.co